Wednesday, April 6, 2011

dedicated to my 1st son Enzo Fernandito

dedicated to my 1st son Enzo Fernandito 


February 28, 2008
enzo nama ini di ambil dari pencipta ferarri, Edino Enzo Ferarri, mobil ciptaannya sangat khas dengan warna merahnya, dan karena desainnya klasik maka dipilih juga motif yamaha edisi 50 ulang tahun, dan tanpa di sengaja enzo ini juga pengemar warna merah...


ini kisah nya...


Kesan Retro Sporty Buat Si Fino 

Diawali dari diskusi kecil dengan teman lama Mr. Rawal pemilik Motor Otostlyle, dengan menciptakan sebuah proyek sederhana. Idenya, diperkuat atas dasar kemauan mempunyai motor matik bergaya retro sporty look, tetapi tetap nyaman ditunggangi untuk harian alias daily use dan bisa sedikit diajak "olahraga".
Akhirnya setelah ide dan konsep matang, jatuhlah pilihan pada Yamaha Mio Fino yang retro look (classic style but fancy). Maka dengan diakomodir Mr. Rawal, full body kit Yamaha Mio Fino diterbangkan langsung dari Negara Gajah Putih Thailand.
Untuk menambah kesan klasik yang kuat maka dipilih lah putih smoke silver edisi 2008 sebagai baju yang membalut si Matic yang berdasar putih. Perlu waktu dua hari untuk men-dress up body Fino ini ke Mio, karena menurut Mr. Rawal ada sedikit dudukan body yang harus disesuaikan, dan alhasil jadilah Fino step pertama saya dengan sentuhan Mr. Rawal.
Supaya bertambah sporty look dan semakin "greget", tak ketinggalan beberapa aksesoris tambahan seperti shock breaker depan-belakang Trusty, handle rem dan grip LHK, wind shield Fino, dan side skirt ikut melengkapi Matic semakin sporty di jalanan ...step one done...

Ok step pertama sudah terwujud, dan berikutnya adalah dapur pacu yang tak luput dari sentuhan. Basicly, karena si Fino sporty ini digunakan harian dengan rutenya yang tidak menentu (random map) alias kadang macet...kadang kosong melompong, mau siang "kedombrang" till midnight, dan pastinya tetap di "p.e.r.k.o.s.a" ya pokoknya segala cuaca dan medan deh, baik dalam dan luar kota dan tentunya bisa di ajak sedikit "berolah raga". Maklum kadang berkejar-kejaran sama deadline yang terkadang mesti melalah banyak tempat dan dengan waktu yang relatif mepet. Jadi ya resikonya si Fino harus diajak "olahraga" sedikit...hehehe.

 kebutuhan tunggangan yang bisa dibilang Ojek banget, saya coba berdiskusi dengan beberapa teman, dan hasilnya si Fino dirujuk ke JP Racing milik Mr. Coki untuk membuat sentuhan kecil tapi pas untuk menemani kesibukan saya yang super-duper gila. Setelah mendengar konsep yang diinginkan, maka Mr. Coki meciptakan sebuah konsep Bore Up "harian" seperti yang saya inginginkan.
Konsep Bore Up seperti itu ternyata menguntungkan. Sebab, sama sekali tidak perlu merusak part orisinal dari Yamaha Mio. Karena JP Racing sendiri telah menyiapkan paket komplit dari blok, piston, camshaft, silinder head, klep, hingga pulley...Jadi JP Racing memang memperhatikan detail kebutuhan tanpa merusak part orisinilnya, benar-benar tinggal plug and play...Dan yang terpenting final tune alias setting akhir buat dapur pacu sesuai kebutuhan yang diinginkan. Finally step two done

Setelah urusan mesin selesai, sekarang fokus kembali ke urusan body, karena konsepnya tidak ingin terkesan retro clasic look seperti kebanyakan yang sudah banyak diadopsi teman-teman Fino Owners lainnya. Maka saya menginginkan si Fino ini mennjadi tunggangan yang sporty, dengan begitu dibuat lah ide retro sporty look, dengan melihat banyak referensi yang akhirnya saya mempercayakan HSN Paint buat menggarap ide ini.
Setelah berdiskusi dengan Hasan Basri pemilik HSN Paint akhirnya diputuskan untuk mengadopsi konsep Yamaha 100 Anniversary yang dipergunakan Valentino Rosi pada Kuda Besinya pada GP Racing Season 2007 yang bertepatan dengan peringayan seabad Yamaha, yaitu dengan base putih dengan striping motif kotak-kotak merah ciri khas Yamaha dan sedikit strip hitam tipis untuk mempertegas. Dan beberapa komponen lainnya seperti velg, behel belakang dan speedo meter diberikan sentuhan titanium look untuk mempertajam aroma sporty look si Fino...
Setelah pisah ranjang selama 14 hari...Finaly jadi juga tuh Fino dengan retro sporty look, tetu saja dengan sentuhan visual akhir ini lebih menguatkan konsep awal saya.

Special thx to:
Mr. Rawal - Motora Ottostyle
Mr. Coki - JP Racing
Mr. Hasan Basri - HSN Paint

Photo by - Sandy Juniar

Nb: Kalau kebetulan kita berpapasan di jalan, klakson aja 2x Pasti dibales.
Satu lagi bro, kalau kebetulan ni Fino lagi "olahraga" jangan marah ya (maklum Deadline hehehe punteun jangan ngambek ya bro).






OWNERS : ACHOBULE 

ENGINE : 
• Karburator ( oem yamaha ) 
• Piston Bore Up ะค 58 
• Camshaft F38 type F1
• Per Klep Sonic & Klep 28 in 24 out 
• Knalpot Kawahara 

KAKI - KAKI : 
• Pelek Yamaha OEM 14 inch 
• Ban 
o Front merk Indotyre  ukuran 90/90 -14 
o Rear merk  Indotyre  90/90 - 14 
• Shock Breaker 
o Front merk Trusty 
o Rear merk YSS 
• Pulley 
o kawahara 13 derajat 
• CVT 
o Roller merk LHK 

AKSESORIES : 
• Windshild Fino OEM 
• Side skirt Fino OEM 
• Oil Temperatur 
• Brake Handle OEM 
• Grip Handle Kitaco 

Bersatu Padu Lewat Kopdar Gabungan Komunitas Nouvo

Apa jadinya bila sejumlah komunitas sejenis kopdar bareng? Pertemuan ini bukan saja seru, tapi juga spesial. Lantaran sebagian dari komunitas itu awalnya merupakan satu klub yang kemudian memisahkan diri. 

Niatan ‘menyatukan kembali’ komunitas dan klub ini diawali dari prakarsa oleh Stephen Andries. “Di Jakarta, Bogor dan Bandung, komunitas Nouvo tetap eksis walaupun pabrikannya sudah lama menyetop produksinya,” yakin Stephen,

Pada Jumat, 11 Maret mereka berkumpul di bilangan Jl. Gandaria, Jakarta Selatan. Mereka terdiri dari Jakarta Nouvo Club, Nouvo Owner Society, Bandung Nouvo Club, Nouvo Z Riders, Nouvo Kaskus, Nouvo Holden, Brigade Motor Senayan. 

“Memang acara ini benar-benar dikhususkan untuk agenda saling mengenal sesama komunitas Nouvo. Jadwalnya pun sengaja dibuat Jumat malam atau disesuaikan dengan jadwal kopdar masing-masing klub,” kata Achobule, salah satu dedengkot BMS

Sebagian besar pemilik Nouvo yang hadir adalah produk keluaran awal yakni 2002-2005. Skubek keluaran tahun segitu memiliki ciri khas, bentuk lampu depan yang besar mirip kepala lele. Makanya, besutan ini biasa disebut Nouvo Lele. 

Walaupun tidak semua peserta yang hadir adalah pemilik Nouvo Lele. Seperti Nouzer alias Nouvo Z Riders. Komunitas ini khusus untuk pemilik Nouvo-Z yang resmi berdiri pada 29 November 2005. 


 Suasana cair walau beda klub
Sipnya lagi, mayoritas anggota Nouzers sudah memodifikasi tampilan motornya. Bahkan di awal berdirinya, beberapa anggota Nouzers ada yang sudah menggunakan peranti komunikasi canggih berupa GPS atau alat untuk membantu navigasi. 

“Kegiatan wajib kami yakni turing tahunan pada saat ulang tahun klub. Untuk turing tambahan boleh saja dilakukan oleh anggota lainnya,” jelas Riady yang didaulat jadi pembina Nouzers.

Sedangkan Nouvo Kaskus berawal dari forum Kaskus. “Kami bertemu awalnya di forum Kasak Kusuk. Cari info tentang Nouvo. Dari obrolan sepakat untuk membentuk komunitas ini,” tegas Carlos, salah satu anggota Nouvo Kaskus. 

Pertemanan lewat jalur dunia maya ini punya kelebihan. Informasi jadi lebih cepat dan memudahkan anggota Nouvo Kaskus mencari komponen yang mereka butuhkan,” katanya. 

Nouvo yang stop distop produksi oleh pabrikan Yamaha, pasti akan merisaukan pemiliknya jika perlu atau cari komponen. “Tidak masalah. Masih banyak kok komponennya. Bahkan untuk body part yang susah sekali pun,” pasti Carlos yang juga membawa brothernya dari Bandung, Bogor dan juga Depok. 

Nouvo Owners Society terdiri dari 50 orang anggota. Berdiri pada Maret 2007. Biasa mengadakan kopi darat di Kawasan Patung Panahan, Senayan, Jakarta. “Sebagai komunitas, kami memberikan kebebasan untuk anggota dalam berekspresi soal tunggangan. Mau modifikasi fashion boleh atau modif performa,” jelas Christanto, Ketua Umum NOS. 

Satu hal yang wajib ditaati oleh anggota, motor harus tetap dalam kondisi laik jalan. “Mau bore up 200 cc lebih nggak papa. Asal saat turing wajib, motor itu harus bisa ikut dan tentunya tetap safety,” jelas pria akrab dipanggil Chris. 

Salah satu kegiatan yang lagi in di komunitas ini adalah hampir semua anggota aktif memiliki hobi bersepeda gunung. “Kalau nggak kopdar biasanya kita ke Ciawi, Bogor main sepeda gunung,” jelas Chris yang memodif sepedanya sehingga diikuti oleh para anggota. 

Untuk Nouvo Holden biasa ngumpul bareng di bilangan Circle K, Gandaria, Jakarta Selatan. “Komunitas ini merupakan pemilik mobil Holden yang juga punya Nouvo. Tapi lebih sering pakai Nouvo dibanding Holden. Aliran skubeknya dari street performance sampai klasik yang masih mempertahankan keaslian,” kekeh Stephen Andries, salah satu anggota Nouvo Holden. 

Tanjung perwakilan Bandung Nouvo Club mengungkapkan semangat yang dalam kumpul bareng ini bisa makin diperkuat. “Kami berharap rasa persaudaraan yang ditimbulkan dari ajang kopdar bersama ini bisa semakin mempersolid teman-teman,” harap Tanjung.



   Makin berkembang
Komunitas Awal

Jakarta Nouvo Club bisa dibilang klub pertama Yamaha Nouvo. JNC juga tergabung dalam Yamaha Rider Club (YRC).

Dengan perkembangan, beberapa anggota awal kemudian pisah dan mendirikan klub lain. Namun, perpisahan dan perbedaan ini tidak menjadi friksi di antara komunitas Nouvo. 

Hendro Ardianto, Ketua JNC mengatakan kalau klub ini berdiri pada 2003. “Tepatnya, tidak lama setelah Nouvo dilluncurkan. Kami banyak mengadakan kegiatan terutama turing,” bilang Hendro. 

JNC didirikan atas dasar saling suka, dan tidak membatasi anggota pemilik Nouvo lama, atau Nouvo Z bahkan Nouvo Elegance sekalipun. Klub yang bermarkas di kawasan Tebet Timur, Jakarta Selatan ini selalu menggelar kopi darat setiap Jumat malam. Waktunya mulai jam 20:00 dan bertempat di belakang Kejaksaan Negeri atau di samping Circle K, pas depan Interstudy Bulungan, Jakarta Selatan.

Anggota JNC juga seperti anggota komunitas lain yang lebih mengarah pada fashion alias tampilan. Namun tidak jarang juga sebagian anggota yang memodif ikasi kinerja skubek Yamaha ini dengan menambah kapasitas mesin. Kombinasi modifikasi tampilan dan performa.

 Tempat kumpulnya tukang ngebut
Semua Nggak Standar

Jika melongok motor anggota komunitas BMS ini, tidak satu pun ditemui motor standar. Semua sudah kena sentuhan bore up, Cuy!

Benar. “BMS adalah sebuah wadah berkumpulnya penggemar motor yang hobi turing dan juga pecinta kecepatan. Jadi, kami memang tidak membatasi merek dan dari klub mana dia berasal,” jelas Acho salah seorang pentolan BMS.

Karena tempat berkumpulnya speed freak turing, maka agenda rutin tahunan, ya pasti turing. Nah, di sinilah keunggulan BMS. Meski sekilas tanpa organisasi dan kepengurusan yang jelas, tapi BMS sangat lihai mengelola perencanaan dan perjalanan turing. Sebelum menentukan agenda tahunan, mereka mengangkat beberapa orang yang ditunjuk sebagai koordinator event.

Saking seriusnya, sebelum melakukan turing, sang koordinator harus melakukan survey terlebih dahulu sebelum agenda turing dijalankan. Survey meliputi kondisi aspal jalanan, lalu lintas, titik start dan finish. Karena biar bagaimana pun juga koordiantor harus bisa menemukan mana jalanan yang bagus, lalu lintas sepi sehingga tidak membahayakan pengendara lain. 

Jangan lupa kabar-kabari kalau mau jalan lagi! (motorplus-online.com)